Hari Pertama

Jumat, 29 Juli 2011
23.13
 
Pertanyaan yang paling memilukan hari ini datang dari seorang bocah berusia 3 tahun.
Dia adalah Arai, anak lelaki dari kakak tertua.
Pertanyaan yang sederhana dan lugu,
 
“Tata, di mana Opa?”
 
Saya terdiam, menghela nafas panjang, kemudian memeluknya.
Bingung harus menjawab apa, akhirnya saya memberikan jawaban yang pertama terlintas di pikiran,
 
“Opa lagi di kamar sebelah”
 
Sebenarnya itu jawaban yang kurang masuk akal. Karena sudah 5 tahun Papa lumpuh akibat tumor di sum-sum tulang belakang. Itu sebabnya Papa selalu terbaring di tempat tidurnya, dan arai pasti heran jika dia tidak melihat opanya di atas tempat tidur.
 
Arai pun menjawab,
“Tapi, Opa tidak ada di kamar sebelah”
 
Jangan pernah menyepelekan anak umur 3 tahun!
 
Saya pun bertambah bingung, dan akhirnya menjawab,
“Opa lagi di luar”
 
Dan kali ini saya berkata jujur, karena Papa memang sedang berada di ruang tamu. Namun yang berada di luar adalah jenazah Papa.
Ya Allah, masih berat menggunakan kata ‘jenazah’.
 
Satu pertanyaan juga muncul ketika sedang memilih baju.
“Mama, kakak mau pakai kaos lama”
Mamanya pun menjawab,
“Hari ini kakak pakai kemeja putih”
“Kenapa mama?”
“Iya, sayang. Hari ini semua pakai baju putih”
“Kenapa mama?”
“Iya, hari ini mau berdoa buat Opa”
Arai pun keluar untuk mandi dan melihat opanya.
“Itu Opa. Oh, Opa lagi tidur”
Ketika sedang berganti pakaian, sayup-sayup terdengar suara Arai yang sedang berbicara dengan sepupunya (yang juga berusia 3 tahun)
“Cheya, Opa lagi di luar, lagi bobo. Opa sakit”
 
Ya Allah, betapa lugu dan polosnya anak ini.
Bagaimana kalau dia bertanya lagi di mana Opanya?
Saya pun terduduk dan diam.
Melihat wajah ibu, kakak-kakak, dan terakhir memandang wajah Papa.
Apa yang dikatakan Arai betul.
Wajah Papa begitu bersih dan tenang, tampak seperti tertidur.
Anak sekecil Arai, sampai kapan kenangan tentang Opanya akan tersimpan di memorinya?
Memeluk Arai dan adiknya terasa begitu pilu, namun di balik pelukan itu terselip perasaan ikhlas, sabar dan memberikan kekuatan yang luar biasa
Papa sangat mencintai mereka, seperti kami mencintai Papa.
Entah pertanyaan apalagi yang akan terlontar dari Arai.
Pertanyaan yang polos namun sejuta perasaan yang akan muncul dari orang-orang yang mendengarnya
 
***
 
Innalillahi wainna ilaihi rajiun
Selamat jalan, Papa
We Love You
This entry was posted in Just Sharing and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Hari Pertama

  1. telly says:

    Inalilahi wainailaihi rojiun…
    Smoga amal ibadah almarhum di terima di sisiNya, diampuni semua dosa2 nya di lapangkan kubur nya dan keluarga yg di tinggalkan di beri ketabahan… amiiin ya robal alamin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s