Stop Use This Word as a Joke

Kata Autis mungkin sudah tidak asing lagi dalam masyarakat. Banyak orang yang mengira autisme sama dengan keterbelakangan mental, namun kedua gangguan tersebut sama sekali berbeda. Meskipun tidak sedikit penderita autisme yang memiliki IQ yang rendah, namun banyak juga penderita autis yang memiliki inteligensi rata-rata bahkan jenius.

Centre for Disease Control and Prevention mengemukakan bahwa angka kejadian autisme di Amerika Serikat meningkat setiap tahunnya. Jika pada tahun 2002, satu dari 150 anak menderita autisme, kini satu dari 110 anak menderita gangguan tersebut. Bandingkan dengan data yang diperoleh Autism Research pada tahun 1987, dimana ”hanya” satu dari 5000 anak yang menderita autisme. Sayang sekali tidak ada data yang akurat mengenai penderita autisme di Indonesia, namun diperkiran perbandingan penderita di Indonesia tidak berbeda jauh dengan perbandingan di Amerika Serikat (www.autis.info)

Kanner (Djohan, 2003) mengemukakan bahwa autisme berasal dari bahasa Yunani yaitu “autos” atau “sendiri” yang diartikan memiliki keanehan dalam bersosialisasi dengan dunia di luar dirinya. Sedangkan menurut wikipedia, autisme merupakan adalah kondisi yang dialami sejak lahir maupun sejak balita, yang membuat seorang anak tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal.

Hingga kini, faktor tunggal yang menjadi penyebab timbulnya gangguan autisme belum diketahui dengan pasti. Namun terdapat beberapa teori penyebab autisme, salah satunya adalah gangguan neurobiologis yang mempengaruhi fungsi otak sedemikian rupa sehingga anak tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif (www.autis.info).

Gejala autisme umumnya dapat dideteksi pada usia dua atau tiga tahun. Berikut beberapa gejala autisme berdasarkan Diagnostic Statistical Manual edisi ke-4 (DSM-IV) yang dikembangkan oleh American Psychiatric Association:

Gangguan dalam interaksi sosial (minimal dua):

  • Tidak mampu menjalin interaksi sosial non-verbal: kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak-gerik yang kurang tertuju.
  • Tidak mampu berinteraksi dengan teman sebaya (seusai tingkat perkembangannya).
  • Tidak mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain (empati).
  • Kurang mampu melakukan hubungan sosial dan emosional dengan orang lain (dalam dua arah).

Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi (minimal satu):

  • Bicara terlambat atau bahkan tidak sama sekali (tidak ada usaha juga untuk berkomunikasi non-verbal sebagai alternatif).
  • Jika bisa berbicara, tidak digunakan untuk berkomunikasi.
  • Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang.
  • Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif dan kurang bisa meniru.

Imaginasi, berpikir fleksibel dan bermain imaginative (minimal satu):

  • Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebih-lebihan.
  • Terpaku pada suatu gerakan ritualistik yang tidak berguna.
  • Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang.
  • Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.

Jika anak anda, ataupun keluarga memiliki gejala-gejala tersebut, jangan malu ataupun segan untuk meminta bantuan pada ahlinya (psikolog ataupun psikiater). Semakin cepat mendapatkan bantuan, maka akan semakin baik. Terdapat banyak terapi penyembuhan bagi penderita autisme. Para orang tua, jangan pernah menyerah, karena autisme merupakan gangguan proses pengembangan, sehingga terapi yang dilakukan juga membutuhkan waktu yang lama. Selain itu, setiap anak membutuhkan jenis terapi yang berbeda. Terapi harus disesuaikan dengan kebutuhan anak, berdasarkan potensi, kekurangan dan tentu saja sesuai dengan minat anak sendiri. Terapi harus dilakukan secara multidisiplin ilmu, misalnya menggunakan terapi bermain, terapi wicara dan terapi perilaku sebagai dasarnya. Tenaga ahli yang menangani anak harus mampu mengarahkan pilihan-pilihan anda terhadap berbagai jenis terapi yang ada saat ini. Jangan pernah lupa, semua anak membutuhkan kesabaran dan cinta yang tanpa batas dari orang tuanya. Sekali lagi jangan malu jika anak anda menderita autisme. Sayangi mereka apa adanya, karena mereka adalah anugerah dari Tuhan.

Happy World Autism Awareness Day! Salut bagi para orang tua yang memiliki anak yang menderita autisme namun tidak pernah malu dengan kondisi anaknya. Dan bagi orang-orang yang masih menggunakan kata autis sebagai sebuah joke, pernahkah anda menempatkan diri anda di posisi orang tua yang memiliki anak penyandang autisme? Saya sendiri beberapa kali menggunakan kata tersebut sebagai joke dan saya tidak bangga dengan hal tersebut. Maka, kenapa kita tidak membiasakan diri untuk tidak menggunakan kata ‘autis ‘sebagai bahan candaan?🙂

Sumber: http://www.autis.info, wikipedia, psikologi musik (Djohan, 2003)
This entry was posted in Kesehatan, Psikologi, Psikologi Perkembangan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s