Sibling Rivalry

Adik habis berantem dengan kakak karena masalah mobil? Atau kakak marah-marah ke adik karena memakai bajunya tanpa izin? Semua orang pasti pernah bertengkar dengan saudaranya, kecuali orang yang tidak memiliki saudara kandung alias anak tunggal. Bertengkar dengan saudara merupakan hal yang wajar, apalagi jika memiliki banyak saudara dan jarak umurnya berdekatan. Akan tetapi, jika bertengkar setiap hari hingga adu fisik, kayaknya hal tersebut sudah berlebihan.

Sibling rivalry merupakan persaingan antar saudara kandung, dimana persaingan ini terjadi dalam berbagai bentuk, seperti rasa cemburu, pertengkaran hingga perkelahian. Umumnya sibling rivalry terjadi sejak anak kedua lahir, artinya sang kakak mulai merasakan cemburu dengan kehadiran adiknya tersebut. Jika masih berada dalam taraf yang wajar, maka sibling rivalry masih memiliki efek yang positif. Anak dapat berlatih mengatasi masalah, mengontrol emosi, belajar etika meminta maaf, serta bisa lebih jernih dalam menilai serta mencari solusi masalah. Terlebih lagi ketika anak berada di luar keluarga.

Kenapa sih sampai terjadi sibling rivalry??? Banyak hal yang melatar belakanginya, antara lain:

  • Jarak usia. Jarak usia antara kakak dan adik yang terlalu dekat dapat menyebabkan terjadinya sibling rivalry, karena dengan jarak usia yang seperti ini, mereka biasanya sama-sama menuntut perhatian yang sama dari orang tuanya. Namun, bukan berarti jarak usia yang jauh tidak bisa berpotensi muculnya sibling rivalry lho. Meskipun usia terpaut jauh, tetapi bisa saja terjadi persaingan antar saudara, meskipun bukan dalam bentuk persaingan fisik.
  • Temperamen individual. Setiap orang memiliki temperamen yang berbeda-beda, bahkan saudara kembar sekalipun. Perbedaan temperamen mencakup mood, watak, kemampuan beradaptasi dan keunikan pribadi. Perbedaan inilah yang kadang memicu pertengkaran antara kakak dan adik.
  • Modelling dari orang tua. Anak merupakan cerminan dari orang tuanya. Anak biasanya meniru segala hal dari orang tua, sehingga jika orang tua menyelesaikan masalah dengan emosional bahkan perilaku agresif, maka anak pun akan bertindak demikian.
  • Ingin berbeda dari saudaranya. Anak biasanya bersaing untuk menunjukkan jati dirinya (terutama remaja), misalnya saja menemukan siapa dirinya, berusaha menemukan bakat mereka, aktifitas dan minat mereka. Seseorang selalu berusaha menunjukkan perbedaan mereka dibandingkan saudaranya.
  • Pembagian peran dalam rumah dan aturan dari orang tua. Pembagian tugas rumah yang tidak adil dapat memicu pertengkaran antar saudara. Misalnya saja sang adik diberikan tugas membersihkan rumah, mencuci baju, memasak dan lain-lain, sedangkan kakaknya hanya diberikan tugas untuk menyiram tanaman, maka dapat menimbulkan perasaan tidak adil pada adiknya. Selain itu, jika orang tua tidak menerapkan aturan-aturan dalam rumah, maka akan menyebabkan kurangnya disiplin pada anak-anak.
  • Stres. Stres pada kehidupan salah seorang anak, dapat memicu terjadinya konflik, dimana orang yang merasa bosan, lelah, ataupun bete’ biasanya lebih sering memulai pertengkaran atau perkelahian. Selain itu, stres dalam kehidupan orang tua dapat menurunkan perhatian yang diberikan orang tua kepada anak, sehingga meningkatkan persaingan antar saudara.

Bagi para Orang Tua

Bagaimana cara mencegah sibling rivalry? Banyak cara yang dapat dilakukan, dimana setiap keluarga bisa saja memiliki cara-cara tersendiri yang unik, untuk mencegah hal ini. Hal-hal yang dapat dilakukan orang tua, untuk mencegah sibling rivalry pada anak mereka antara lain:

  • Membuat aturan-aturan dasar dalam bertingkah laku, misalnya saja tidak boleh memaki, tidak boleh membanting pintu ataupun berteriak, ataupun pembagian tugas dalam rumah. Orang tua mengajak anak-anaknya untuk mematuhi aturan tersebut dan segala konsekuensinya ketika mereka melanggar. Hal ini mengajarkan anak untuk bertanggung jawab dengan segala perilaku mereka. Namun, aturan yang diberikan orang tua harus dibicarakan terlebih dahulu dengan anak dan pelaksanaannya harus konsisten.
  • Mendengarkan anak dan menjadi proaktif dalam memberikan perhatian satu persatu kepada anak-anaknya untuk memenuhi minat dan kebutuhannya. Sediakanlah waktu untuk berdiskusi dengan mereka, seperti hal-hal apa saja yang baru terjadi pada mereka, apa saja yang mereka inginkan ataupun hal-hal apa saja yang membuat mereka marah. Bahkan ketika anak-anak mulai menginjak masa remaja, tetap sediakan waktu untuk berdiskusi dengan mereka. Namun, orang tua harus mengikuti posisi anak seiring perkembangan mereka, dimana cara berbicara dengan anak yang masih kecil berbeda dengan anak yang telah remaja.
  • Ketika menyelesaikan konflik yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, orang tua sebisa mungkin menyelesaikan dengan kepala dingin, sehingga menjadi model yang baik bagi anak-anaknya.
  • Yakinkan anak untuk memiliki ruang bagi dirinya sendiri, misalnya menghabiskan waktu sendirian atau berkumpul dengan teman-temannya tanpa harus bersama dengan saudaranya, namun dalam rasio yang seimbang dengan waktu untuk keluarga. Selain itu, anak juga diajarkan untuk menjaga privasi dari saudaranya yang ingin sendiri.
  • Tunjukkan dan katakan pada anak bahwa cinta dan perasaan sayang orang tua pada anak-anaknya tidak terbatas, sehingga anak-anak dapat merasakan kasih sayang orang tuanya. Anak yang merasakan cinta dari orang tuanya akan merasa aman, dicintai dan segala kebutuhannya akan terpenuhi.
  • Bersenang-senang atau melakukan kegiatan yang menggembirakan bersama seluruh anggota keluarga. Hal ini semakin mengakrabkan  hubungan satu sama lain, menimbulkan kesenangan dan kegembiraan dalam keluarga.
  • Yang terpenting, ajarkan anak untuk saling mencintai dengan saudaranya sejak kecil. Selain itu, ajarkan mereka untuk saling berbagi, menjaga dan meminta maaf atas kesalahan yang mereka lakukan.

Jika sibling rivalry telah terjadi dalam keluarga, apa yang sebaiknya dilakukan oleh orang tua? Berikut beberapa hal yang mungkin dapat dilakukan para orang tua untuk mengatasi pertengkaran yang terjadi pada anak-anak:

  • Sikap baik dan bijaksana bagi orang tua adalah bersikap netral dan objektif, artinya orang tua tidak memihak salah satu anaknya dan tidak menyalahkan perilaku anaknya yang lain.
  • Masing-masing anak yang berkonflik diajak berunding oleh orang tua untuk berbicara menyampaikan perasaan, pendapat dan sikapnya, serta apa yang mereka harapkan.
  • Setiap terjadi konflik, orang tua membantu anak untuk menyelesaikannya segera mungkin. Yang ditekankan dalam hal ini adalah mencari solusi dari masalah, bukan mencari siapa yang salah. Semakin mereka dewasa, biarkan mereka menyelesaikan konflik mereka namun orang tua tetap memantau cara mereka menyelesaikan konflik tersebut.
  • Orang tua berusaha untuk menjadi penengah yang baik dan berusaha untuk menyadarkan mereka bahwa pertengkaran bukanlah jalan keluar untuk menyelesaikan konflik. Serta memberitahu mereka bahwa konflik yang tidak terselesaikan hanya akan menyebabkan kehancuran dalam keluarga.
  • Masing-masing anak diajak untuk menyadari kesalahannya dan meminta maaf, atau yang lainnya diajak untuk memaafkan kesalahannya tersebut, sehingga akan tercipta kedamaian, kerukunan dan keharmonisan antara anak yang satu dengan anak yang lainnya.

Bagi para remaja:

Masalah pertengkaran dengan saudara juga dapat membuat remaja tidak nyaman berada di rumah. Suasana rumah yang kurang mendukung, dapat membuat remaja merasa ‘sumpek’ dan tidak betah berada di rumah. Nah, bagaimana cara mencegah sibling rivalry pada remaja?

  • Saling sharing dengan saudara. Bagaimana pun saudara adalah sahabat di rumah, sehingga kita bisa berbagi apa saja, mulai dari benda-benda hingga rahasia-rahasia kecil yang kita miliki. Saudara kandung merupakan orang yang paling mengerti “sejarah” hidup kita, dan dengan jarak umur yang dekat, dia bisa mengerti apa yang kita rasakan.
  • Membagi waktu yang seimbang antara sahabat dan saudara. Ajak saudara melakukan kegiatan-kegiatan yang seru, misalnya nonton film bareng, olahraga bersama, ataupun kegiatan lain yang biasanya dilakukan bersama sahabat.
  • Jika memiliki masalah di sekolah/kampus atau masalah dengan pacar, jangan melampiaskan pada orang-orang di rumah, terutama saudara. Belajar untuk menyelesaikan konflik langsung pada masalahnya, bukan pada orang lain yang tidak mengetahui adanya konflik tersebut. Jika konflik tersebut mempengaruhi mood kita, maka sebaiknya menyendiri terlebih dahulu untuk meredakan emosi yang negatif.
  • Jangan pernah membanding-bandingkan diri dengan saudara. Setiap orang memiliki kepribadian, fisik serta kebutuhan yang berbeda-beda. Cintai diri anda serta saudara anda apa adanya.
  • Saling menghargai privasi masing-masing pihak. Anda pasti memiliki rahasia yang tidak ingin diungkapkan kepada siapapun atau mungkin saja anda ingin menyendiri tanpa diganggu oleh siapapun, begitu pula dengan saudara anda. Maka, jangan melanggar privasi orang lain jika tidak ingin privasi anda diganggu.

Saudaraku adalah musuhku??? Jangan sampai hal itu terjadi dalam hidup kita. Jika telah terjadi percekcokan dengan saudara, maka harus segera diselesaikan. Berikut beberapa tips yang dapat membantu dalam menyelesaikan sibling rivalry.

  • Ungkapkan apa yang anda rasakan pada saudara anda, apakah rasa marah, cemburu, ataupun kecewa. Berusahalah memberitahu dan membicarakan konflik tersebut dengan kepala dingin. Namun kita juga harus mendengarkan apa saudara kita rasakan, karena mungkin saja dia merasakan hal yang sama.
  • Jika anda marah pada kakak atau adik jangan melampiaskan pada hal-hal lain, misalnya menyembunyikan baju kesayangan kakak atau membaca buka harian adik dan memberitahukan pada orang lain. Jangan juga melakukan kekerasan fisik pada saudara kita, misalkan memukul adik atau melempar kakak dengan buku. Hal-hal tersebut tidak akan meredakan masalah, namun akan semakin mempersulit keadaan bahkan bisa saja melukai saudara kita.
  • Jangan terpancing ketika kakak atau adik berusaha membuat kita marah. Belajar untuk mengelola amarah.
  • Belajar untuk memahami bahwa saudara kita juga manusia biasa, sehingga mereka juga dapat melakukan kesalahan atau hal-hal yang dapat membuat kita jengkel atau marah. Pahami, apa yang membuat mereka seperti itu. Selain itu, berusaha pula untuk introspeksi diri sendiri. Dengan itu, akan membuat kita mudah dalam memaafkan kesalahan orang lain.
  • Berusaha mencari “win-win solution” atas permasalahan yang dihadapi.
  • Segera untuk selesaikan setiap masalah yang ada. Jangan menyimpan hingga masalah tersebut menjadi semakin besar. Belajar untuk saling memaafkan dan tidak menyimpan dendam.

Jika sibling rivalry masih terjadi, bahkan mengarah pada tindakan agresif yang serius, jangan ragu-ragu untuk meminta bantuan pada ahlinya, misalnya psikolog ataupun konselor keluarga.

Daftar Pustaka:

Boyse, K. 2007. Sibling Rivalry, (Online). (http://www.med.umich.edu/1libr/yourchild/sibriv.htm, diakses 1 Juni 2007).
Dariyo, A. 2004. Psikologi Perkembangan Remaja. Bogor: Ghalia Indonesia.
Harkness, D., & Pendley, J.S. 2006. Sibling Rivalry (Online). (http://www.kidshealth.org/parent/emotions/feelings/sibling_rivalry.html, diakses 1 Juni 2007).
Susanti, I.M. 2007. Anak Suka Berantem, (Online). (Http://ikapunyaberita.wordpress.com/2007/06/03/anak-suka-berantem/, diakses 1 Juni 2007).
This entry was posted in Psikologi, Psikologi Perkembangan and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Sibling Rivalry

  1. Sibling Rivalry..there wasn’t change their mind, soul n’ heart..they’re different..!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s