Harry Potter and The Deathly Hallows Part I

Bukan hal yang mudah untuk membuat sebuah film yang diangkat dari novel, terutama jika novelnya sangat laris dan memiliki penggemar di seluruh dunia.
Para sineas menghadapi dilema, membuat film dengan cerita orisinil seperti novelnya, atau menghilangkan beberapa adegan dan menambahkan beberapa “bumbu” yang tidak ada di novel. Untuk film Harry Potter and The Deathly Hallows, saya sangat senang dibagi menjadi dua bagian. Karena, dengan durasi yang lebih lama, maka filmnya pun menjadi lebih detail. Banyak adegan penting yang tidak dihilangkan.

Film maupun novel aslinya, memiliki plus minus tersendiri. Kita tentu tidak mengharapkan film tersebut 100% sama dengan novelnya. Karena sebagian besar penonton pasti akan bosan karena sudah mengetahui jalan ceritanya. Harapan para pembaca novel ketika menonton filmnya, tentu mengingankan kejutan-kejutan kecil yang tidak ada di dalam novel, namun sekiranya kejutan tersebut tidak mengubah jalan cerita.

Sebagai penggemar Harry Potter, saya sangat tertarik untuk mengikuti baik film maupun buku. Bukan hanya untuk membandingkan ceritanya, tapi untuk saling melengkapi keduanya. Ada hal-hal yang tidak bisa saya dapatkan di novel, namun ada di film. Begitu pula sebaliknya.

Kelebihan utama dari membaca sebuah novel menurut saya, pembaca lebih bisa merasakan “emosi” dari setiap karakter yang ada. Emosi adalah unsur yang paling penting. Karena cerita tersebut dikatakan berhasil, jika penonton/pembacanya ikut merasakan emosi dari tokoh sentralnya.

Mungkin inilah alasan terkuat, mengapa saya sangat menyukai Harry Potter. JK Rowling memang patut diacungi jempol. Karena setiap tokoh dalam Harry Potter memiliki karakter yang kuat dan para pembaca bisa ikut merasakan apa yang mereka rasa. Tentu saja hal ini relatif bagi setiap pembaca, namun setiap saya selesai membaca Harry Potter ada sensasi tersendiri yang saya rasa, seakan-akan saya menjadi orang keempat dalam persahabatan Harry, Ron dan Hermione.

Dalam novel, sangat detail dijelaskan mengenai konflik batin yang dialami oleh Harry, terutama emosinya terhadap Dumbledore. Mulai dari perasaan rindu terhadap sosok Dombledore yang penyayang, kehilangan sosok cerdas yang selalu memberikan jawaban atas segala pertanyaan, perasaan bingung dan kecewa ketika mengetahui masa lalu kepala sekolahnya itu, hingga marah karena Dumbledore memberi tugas yang dia sendiri tidak tahu untuk menyelesaikannya. Ditambah lagi pertengkaran dengan Ron, merana karena jauh dari Ginny, hingga perasaan bersalah karena orang-orang yang dicintainya meninggal. Sungguh merupakan emosi yang kompleks bagi remaja seusianya.

Sedangkan film merupakan perwujudan dari imajinasi. Setiap menonton film Harry Potter, hal-hal yang menarik perhatian saya adalah penampilan setiap tokoh, lokasi-lokasi yang menakjubkan di Inggris, pertempuran Orde Phoenix dan Laskar Dumbledore melawan Pelahap Maut, bahkan pertemuan antara Harry dan Voldemort.

Ada dua hal ingin saya tandai mengenai perbedaan Harry Potter and The Deathly Hallows versi film dan novel:

Di awal film, terdapat adegan Paman Vernon dan Dudley yang sedang mengangkat barang ke mobil untuk meninggalkan rumah. Dudley merasa ragu untuk pergi namun Paman Vernon mengatakan mereka harus. Hal ini sangat berbeda di buku, yaitu Paman Vernon mengira Harry berusaha mengambil alih rumah setelah mereka pergi. Akan tetapi yang menjadi poin penting di sini adalah adegan antara Dudley dan Harry. Dudley, yang kita ketahui adalah musuh Harry di rumah, selama ini digambarkan sebagai sepupu yang tidak berperasaan, manja dan sering berbuat onar. Di novel, sebelum keluarga Dursley meninggalkan rumah, Harry mengatakan bahwa dia sudah terbiasa jika mereka menganggapnya sebagai pemborosan ruangan. Namun tiba-tiba ada adegan yang membuat saya tersenyum (bahkan terharu), yaitu ketika Dudley mengatakan bahwa dia tidak menganggap Harry sebagai pemborosan ruangan. Dia bahkan mengatakan Harry adalah penyelamat nyawanya. Wow. Sungguh di luar dugaan, Dudley menjadi lebih dewasa dan lebih bijak. Bahkan sebelum mereka berpisah, Dudley mengajak Harry bersalaman. Tentu saja Petunia mendramatisir adegan itu dengan memeluk Dudley dan menangis karena terharu. Sungguh sangat menggelikan memperlakukan remaja yang hampir dewasa seperti seorang anak kecil. Kembali ke inti adegan tersebut, Harry ternyata masih diterima oleh keluarga Dursley, bahkan dengan kejadian itu berarti hubungan mereka menjadi lebih baik, meskipun di buku tidak diceritakan Harry bertemu lagi dengan mereka.

Kemudian salah satu hal penting yang tidak ada di film adalah perubahan sikap Kreacher. Seperti halnya perubahan sikap Dudley, Kreacher yang selama ini tidak rela melayani Harry sebagai majikannya berubah menjadi peri-rumah yang sangat patuh dan berbakti. Kreacher berubah setelah Harry memberikan Horcrux palsu milik Regulus Black yang didapatkannya di dalam gua bersama Dumbledore. Kreacher yang sangat mengagumi Regulus menjadi terharu dan berubah sikap 180 derajat terhadap Harry. Bahkan dia pun menjadi lebih ‘manis’ kepada Hermione dan Ron yang selama ini dibencinya.

Secara keseluruhan, Film Harry Potter sangat menarik. Bagi orang yang belum membaca novelnya (bahkan jika tidak menonton film Harry Potter sebelumnya), mungkin agak bingung. Tapi bagi para pencinta Harry Potter, film ini cukup memuaskan. Saya sendiri jadi tidak sabar untuk menonton Harry Potter and The Deathly Hallows Part II. Semoga film selanjutnya semakin menarik, menegangkan dan mengharukan.
🙂

This entry was posted in Film and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s